Games kelas bunda sayang level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif #day8)

Hari ini ga banyak aplikasiin komunikasi secara langsung dengan Pak Suami karena dia hari ini berangkat subuh jam 05.00 pulang jam sepuluhan..

Ini aja sambil nunggu sambil ngisi blog d hp, lagi males buka blog di laptop.

Komumikasi kami hari ini macam pasangan LDR yaitu komunikasi dari hp. Ga gampang komunikasi dari hp salah tanda baca sedikit bisa jadi salah makna haha .. Atau ga pake emot aja kita dikira ngambek atau panik, padah kitanya sante aja. 😂😂😂

Ya hari ini terjadi pada saya dan pak suami, karena saya hari ini pulang dan pergi  di jemput dan diantar aa (tetangga yang merangkap driver uber) karena suami ada meeting di Jakarta. Tidak ada komunikasi antara saya dan aa sehingga saya kira aa ga kan jemput.
Hampir mau pesen grab, saya wassap suami dulu bilang kalau sepertinya aa ga jadi jemput

Dan suami lngsung mnghubungi aa,, aa ternyata dah d depan kantor

Disitu suami langsung ngejudge saya jangan panik. Padahal sebenarnya saya ga panik, selow, biasa aja karena dah biasa pulang naik grab dari kantor.

Nah itulah pentingnya kaidah 7-38-55 dan intensity of eye contact , karena dari text saja bisa jadi salah persepsi 😂

#level1
#day8
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

0

Games Kelas Bunda Sayang Level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) #day7



Kemarin pas banget saya ada tugas dari kantor untuk mengikuti trial di salah satu pabrik di Kawasan Jababeka. Karena pulang dari sana sekitar jam 16.30 saya minta suami untuk ketemuan di Mall Lippo Cikarang saja, karena kasian kalau mesti sore  kearah Jababeka yang macetnya menyeramkan.  Saya memutuskan ketemu di Lippo Mall karena lokasinya pas tengah tengah dan sekalian kami buka puasa diluar rumah. Perjalanan dari kawasan Jababeka memang macet banget , apalagi yang arah sebaliknya. Untungnya saya ke Mall Lippo memesan grab ride jadi bebas macet, nyelip nyelip heheh

Saya sampai duluan di Lippo Mall, karena kemarin masih hari kerja. Masih rabu pula jadinya Mall tidak terlalu ramai, Alhamdulillahnya kami masih bisa leluasa untuk cari tempat duduk. Setelah berpikir beberapa menit kami memutuskan untuk buka di es teller **. Kami memilih tempat itu dengan pertimbangan lokasi yang kosong, kalau saya sih dengan pertimbangan ada paket ramadhan jadi lebih murah hehheeh.

Kami duduk lah di bangku , karena bangku masih kosong kami memilih bangku yang kursinya 4 agar lebih luas dan “easygoing” duduknya.  Jam masih menunjukan pukul 17.25 menitan.  Setelah naroh jaket dulu di posisi yang kami incar, saya dan suami menuju meja pemesanan dan menanyakan menu yang ada.

“Ada menu apa aja mba yang paket?”, tanya saya

Sambil menunjukan pamflet mbak kasirnya menjelaskan paket yang ada “ini mbak ada paket berkah bla bla”.

Akhirnya  saya memesan paket 1 (mi ayam, pangsit, dan es teh) sedangkan Pak Suami  memesan paket 3  (nasi goreng, otak otak, pangsit dan es teh) dan kami memesan es nangka.

Mungkin ada waktu sekitar 7 menitan kami memesan di kasirnya, cukup lama bukan karena bingung menu, tapi kami sedikit bingung di awal saat Mbak Kasirnya mengatakan pesennya  jam 17.30 aja kalau pesen sekarang tapi makananya dikeluaran  pas mendekati  adzan magrib ga bisa

Emang ini ga bisa pesen sekarang mba ? harus jam setengah 6 ? saya bertanya sambil lihat flyer harga sapa tahu ada tanda bintang yang menginfokan harus pesen jam setetengah 6

“Bisa mba, Pesen sekarang bisa , tapi bukan salah saya ya kalau nanti maknannya ga hangat lagi “ Jawab Mbak kasirnya

Dan kami berdua (saya dan suami) langsung berucap “ooo,, karena itu” . Kami memutuskan pesan sekarang karena waktu buka tinggal 20 menit lagi.

Ternyata yang kami bingungkan dengan pernyataan mbak kasir bisa pesen jam 17.30 itu Cuma karena mbak nya gak mau disalahin kalau nanti makanannya ga hangat,,, wkkwkwkw

MISKOM DENGAN MBAK KASIR. KOMUNIKASI DENGAN MBAK KASIR TIDAK CLEAR AND CLARIFY. HEHEHE

 karena mugkin kami kepikiran kalau bakmi ** ini bukan sistem yang fast food kaya K*C. Kami kira sistemnya seperti bebek Ka**O yang kudu mesen dan beberapa menit baru sampai ><’

Dalam hati saya bergumam, “yaelah selow aja mbak, kita tau lah kalau kita pesen sekarang konsekuensinya makanan ga kan hangat lagi, pikiran kita paket itu hanya bisa  mulai pesen jam 17.30 >_<

Dan beruntunglah kami, saat sudah memesan, makanan sudah datang , sudah duduk manis , tetiba antrian memanjang  hahaha

Maka nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan :D

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliah bunsayiip
0

Games kelas bunda sayang level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) #day6

Makin kesini tantangan buat nulis makin besar aja. Masih bulan ke 1 ini , masih hari ke 6 pula. Alamak.

Soal komunikasi produktif, saya rasa dengam rasa pede yang tinggi, kaidah 7-38-55  udah agak lumayan bisa diterapkan. Tapi dengan catatan tertentu juga hehe

Catatan kalau tidak ngambek dengan Pak Suami 😂😂😂

Hari ini saya coba lagi kaidah ini. Sore tadi tepatnya,selepas kami buka puasa. Biasanya kalau habis buka puasa, Pak Suami solat d mesjid dekat rumah. Namun karena hari jumat-minggu pulang ke Bandung ya jadi ga solat di Mesjid itu. Nah pas hari senin juga kita solat magribnya berjamaah di rumah. Selepas buka di rumah, suara iqomah mesjid sudah terdengar.

Saya langsung tanya suamik, " ga solat di mesjid?". Suami lagi asik ngasih makan ikan , jawab dengan santai "nggak di rumah aja"

Mendengar jawaban itu mata saya memicing, dahi mungkin sedikit berkerut, mungkin kalau bisa dibahasakan muka saya menunjukan sebel sama jawaban suami dan pengennya suami solat aja di mesjid karena ini mumpung Ramadhan.

Yang saya lakukan tidak bersuara, hanya perubahan mimik muka, nah pas gitu suami liat langsung, mengiyakan mau solat di mesjid dan langsung cuss sarungan 😂😂😂

Mungkin dia dah paham tanpa harus mendengarkan istrinya ngomel

Efektif dan produktif kan komunikasinya 😐😐.

#level1
#day6
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip

1

Games Kelas Bunda Sayang Level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) #day5

Menatap, mencoba memahami, menanggapi.

Tiga hal  itu yang saya coba lakukan hari ini, tepat di sore hari kami biasa bercengkrama.

Bercengkrama atas hal hal yang berfaedah atau yang nirfaedah sudah biasa kami lakukan. Sampai sampai saking tidak ada faedahnya kami sering menemukan kosa kata baru yang hanya dimengerti oleh kami sendiri.
Entah apa awal mulanya sampe ujung ujungnya kami membicarakan mengenai tata surya. Berawal dari kata Universe, lalu lanjut ke mengenai galaksi, tata surya, bima sakti, multi galaksi, multi universe sampai  juga pada 3 paham terciptanya manusia seperti evolusionisme, kreasinisme dan ekstrateleksterial

Bingung ga sih ngomongin itu ?

Saya sih bingung sama ga mudeng  -.- . Walaupun ga mudeng mudeng banget dengan yang Pak Suami jelaskan, namun karena saya menghormati teman bicara saya maka saya melakukan 3 hal yang saya sebutkan pada paragraph pertama tadi.  Ini juga menurut saya merupakan salah satu cara komunikasi produktif  yaitu Intensity of eye contact.

Mengapa ? karena pada saat Pak Suami bercerita, saya menatap antusias, dan menanggapi dengan bertanya hal hal yang tidak saya pahami. Hal itu lah yang membuat  Pak Suami,  semakin antusias dalam menceritakan ceritanya.

Hal ini perlu dibiasakan karena nanti pada suatu saat mungkin besok atau 5 menit dari tulisan ini di selesaikan, saya  membutuhkan seseorang yang mau berada disamping saya, menatap dengan antusias dan mendengarkan apa yang saya ceritakan. Tidak perlu sampai memahami karena kadang wanita berbicara hanya untuk mengeluarkan keluhannya bukan untuk meminta pendapat lawan bicara atau mengharapkan lawan bicara paham.
#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliah bunsayiip
0

Games Kelas Bunda Sayang Level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) day#4

Assalamualaikum wr wb

Seharusnya kemarin malam saya publish tulisan ini, tapi apadaya karena kemarin perjalann pulang kami dari Cimahi ke Cikarang cukup melelahkan akhirnya saya putuskan untuk menulis pagi ini saja, selepas shaur.

Belajar komunikasi produktif sama artinya belajar memahami pasangan. Sebenarnya tidak ada yang perlu di khawatirkan soal komunikasi antara saya dengan pasangan, karena kami sudah biasa bercerita ini dan itu, semuanya. Nah yang menjadi kendala biasanya saat diantara kami sedang lelah atau kesal, ya jadi komunikasi yang ada tidak semulus biasanya, ada saja misunderstanding dan lainnya namun itu tidak pernah berlangsung lama. Paling hanya hitungan jam setelah itu kami kembali mesra lagi. #eaak

Komunikasi produktif yang terkadang saya agak kurang menganalisanya ternyata perdampak positif pada pasangan, yah saya emang agak ga peka soal analisa hal hal yang bersifat harian dikerjakan namun ternyata pasangan saya lebih peka, mungkin karena FOR dan FOE Suami saya ini dulu lebih sering memahami orang secara kuliah ANTROP hahah

Jadi, pada saat  perjalanan pulang di Bus Primajasa saya sempat mengeluhan ke suami " duh belum ngerjain tugas , belum menganalisa  komunikasi produktif ". Suami menyangkal dan mengatakan bahwa saya sudah melakukan komunikasi produktif tapi memang saya tidak menganalisa itu, lalu apa yang dimaksud suami?

Ternyata,,

Soal tidur, wkkwkwkw

simple ya,, komunikasi yang saya utarakan terkait choose the right time. Jadi begini ceritanya,

Hari minggu kemarin selepas sahur sholat dan lainnya saya memang sengaja tidak tidur kembali, kenapa ? karena bawaanya  lemes , jadi saya lebih memilih untuk tidur nanti sekitar jam 9-10 an. Nah selama waktu selepas sahur saya  masih asik dengan menulis (padahal ngerjain tugas sih) dan mengedit blog saya yang kemarin masih acak acakan. Sebenarnya kepaksa rapihin blog karena ditantang Pak Suami untuk mencantumkan blog ini di media sosial. hahha. btw saya sudah mencantumkan di bio Instagram ya,, wkkw

Lanjut ya,, nah Pak Suami selepas solat subuh dan ngaji ada di kamar, sementara saya mengerjakan di ruang tengah, saya kira Pak Suami tidur karena saya sengaja menutup pintu kamar. Ternyata sekitar jam 8 nan saya buka pintu kamar Pak Suami malah  main handphone, Saya tanyakan mengapa tidak tidur? Pak Suami menjawab tadi bisa tidur sebentar tapi karena terdengar suara mesjid yang sedang ada ceramah jadinya kebangun (suara mesjid memang cukup jelas kalau ke rumah). ooh begitu ,, saya lanjut ke laptop karena blog belum selesai dan saya maish cari tutorial soal blog ini itu dan suami masih main handphone sambil brwsing soal kamera.

Sekitar jam 9 saya biarkan laptopnya saya lanjut nyapu sebentar , saya juga sebenarnya sudah mengantuk, karena pada saat nyapu saya sudah menguap. setelah nyapu saya kembali ke laptop tapi sudah ga kuat, dan saya lihat Pak Suami juga asa lemes hahahah. Akhirnya saya inisiatif ajak dia tidur sebentar. Saya ajak dan dia mau, nah ini yang menurut saya komunikasi choose the right time yang tidak saya sadari namun berefek lebih ke Pak Suami.

Pak Suami mengatakan di sore hari nya, " Untung kamu tadi ngajak tidur sebentar (tidur kami hanya dari jam 9 nan- 11 an)" , Pak Suami ngerasa  badannya lebih baik (lebih enakan) pasca tidur dan tidak terbanyangkan kalau tidak tidur lalu kami pulang ke Cikarang akan seperti apa badannya rasanya.

So simple kan ya ?

Nah itu yang saya rasakan, saya ga terlalu kepikiran kesana tapi Pak Suami merasakan efeknya yang luar biasa buat dia, karena kalau buat saya sih ga ngefek banyak mau tidur atau ga. hahaha

Dari situ saya ambil kesimpulan, komunikasi produktif itu bukan hanya soal pemilihan kata , intonasi atau kejelasan kata. Tapi komunikasi juga bisa dilihat saat kita melihat gestur pasangan kita, kita memahami apa yang dibutuhkan pasangan kita, dan disitulah komunikasi terbentuk.

aaaahh,, semakin merasa beruntung ikutan kelas bunsay (padahal dulu jiper dan ga pede wkkwk)


Salam
Aghnia


#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip



0

Games Kelas Bunda Sayang Level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) #day3

Assalamualaikum wr wb

Apa kabar? masih semangat melapor ? walaupun agak mundur beberapa jam hehe, akhirnya nulis (a.k.a ngerjain tugas) juga.

Hari ketiga komunikasi apa yang saya gunakan hari ini dengan Pak Suami? apakah mencoba cara komunikasi yang baru atau  mengulang komunikasi yang belum efektif kemarin?

Sebelum saya jelaskan komunikasi apa yang saya gunakan, hari ini saya akan menceritakan apa yang sudah terlalui pada waktu beberapa jam belakangan. Nah cerita ini juga menjadi dasar saya latihan komunikasi dengan Pak Suami.

Jadi seperti yang dijelaskan di postingan kemarin, Weekend ini kami menghabiskan waktu di Cimahi dikampung halaman saya, nah agenda saya hari sabtunya adalah private make up dengan salah satu MUA yang dulu ngerias waktu saya nikah. Pas banget hari sabtunya adik saya yang no 2 (Mila),  pas lagi lepas dines malem. Profesi Mila yang bidan di salah satu Puskesmas memang ga bisa libur sembarangan karena ada jadwal dines malem pada hari tertentu.

Lanjut ya, saya sudah janjian dengan Teh Eka (MUA) jauh jauh hari untuk hari sabtu ini, dan Mila menemani saya sebagai model merangkap tukang ojek (karena aku g bisa naik motor wkwkwkkw). Alhamdulillah private make up hari ini lokasinya di Cimahi, jadi masih kejangkau ga macet macet banget.

Kami datang sekita pukul 12:00 an , sholat, ngoborol bentar lanjut belajar.dan ternyata belajar makeup itu M.E.N.A.N.T.A.N.G  (pemilihan kata lain dari susah  * baru nonton video Bu Septi tentang merubah diksi komunikasi) wkwkwkwkw

Belajar make up itu memang memerlukan skill yang tinggi , saya jadi tersadar cara makeup yang sering saya gunakan salah teknis nya. Mulai dari apply foundation yang harus di tap tap (kebiasaan di gesek ke wajah langsung :P), kemudian meratakannya ga boleh menclok menclok (kebiasaan menclok menclok ga sabaran pengen cepet selese), mengaplikasikan countouring, blush on, yang paling susah itu ALIS (karena ga pernah make alis ke diri sendiri juga jadinya kaku). Intinya belajar make up hari itu masih 90% Teh Eka yang melakukan, wkwkwkwk. Gakpapa namanya baru pertama kali,  at least tau beberapa teknik, jenis makeupnya dan alat alat tempur yang dipake.

Beginilah hasil make upnya Teh Eka (bukan aku wkwkwkwk)










Bagussssss banget kan ?, pengen lagi belajar lagi tapi harus praktek sendiri dulu di muka sendiri. Ya kalau 3 minggu lagi bisa pulang pengen sih praktek lagi ma Teh Eka hehehe :P.


Nyampe rumah sekitar jam 16:30 WIB , kasian juga sih sama Mila yang naik motor make bulu mata palsu yang tebel dan soft lense (wkkwkwkwk I can imagine it), sampe rumah ya sambil mempraktekan kaidah 7-38-55 dan kaidah yang lain, saya cerita ke suami apa saja yang saya lakukan disana. Pas cerita yang pertama saya bilang , ternyata Make up ga semudah yang dilihat, tekniknya yang selama ini saya pake ga bener, dan saya mengakui kalau saya ini masih belum menikmati proses nya, saat mendandani masih menclak menclok, tidak fokus di satu tempat dulu. Jujur itu emang kekurangan saya yang kadang pengen cepet beres, pengen cepet selesai wkkwkw. Pulang les private malah kecewa sama diri sendiri karena ekspetasi diri ga sesuai dengan relaita hahahahha. Cerita panjang dengan Pak Suami dan dia paham sekali kalo saya ini memang kebiasaan gak sabaran, pengen beres hahah sedangkan yang namanya ngedandanin orang kudu SYABARRRR.

Alhamdulillah sekalian belajar komunikasi produktif, sekalian menumpahkan rasa hari ini ke Pak Suami di waktu mepet sebelum buka, sedikit banyak membuka pikiran saya. Belajar ini masih panjang, masih butuh proses, dan kecewa sama diri sendiri karena terlalu berekspetasi lebih itu wajar. Selanjutnya bagaimana kita terus tetap belajar. Suami mendukung sepenuhnya keinginan saya belajar make up hahahha karena memang saat saya pernah bilang ke Pak Suami kalau saya menyukai hal itu.

Dear Pak Suami, Terima kasih udah mendukung istrimu ini, mendukung istri adalah pahala :P. Mendukung artinya membantu memfasilitasi. Memfasilitasi apa ?

Memfasilitasi  membeli alat make up :P  yang ternyata sangat banyakkk. bahahhahahahahaha (ketawa puas bener). Harap bersabar, ini ujian yak :P.

Kayaknya cerita diatas lebih banyak nyeritain soal belajar make upnya ya. heheheh. Komunikasi produktipnya tetep ada itu pada saat curhat sama Pak Suami. Alhamdulillah menggunakan kaidah 7-38-55 dan kaidah intensty eye contact.

Oh iya, akhir akhir ini Pak Suami minta saya upload blog ini  di sosial media saya, tapi sejujurnya saya masih belum PD. Ini aja bikin blog lagi gegara ada tugas dari Kelas Bunsay wkwkkw. Yah nanti kalau sudah PD akan share tulisan saya ini di sosial media. Insyaallah.

Salam

Aghnia
















0

Games Kelas Bunda Sayang Level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) #day2

Assalamualaikum wr wb,,

Bismillah,,


Hari kedua, sejujurnya saya agak bingung mau nulis apa hehe. Ya karena tidak biasa menganalisa jadi komunikasi berjalan seperti biasa, entah benar atau salah.

Tapi saya sedikit menggunakan kaidah komunikasi lainnya hari ini, walaupun kaidah 7-38-55 saya belum 100% berhasil (Menurut Pak Suamik :P) tapi bukannya memperbaiki malah saya mencoba kaidah lainnya hahaha. Tak apalah tok kata Bu Fasil dan Bu Ketua gapapa #ngeles.

Tadi saya coba mempraktikan kaidah komunikasi produktif lainnya, yaitu kaidah pertama " Kaidah Clear and Clarify". Apa itu kaidah Clear and Clarify ? Kaidah ini merupakan kaidah dimana kita menyusun dengan jelas pesan kita terhadap pasangan atau lawan bicara kita sehingga pasangan atau lawan bicara kita dapat menangkap dengan jelas apa maksud kita.

Kedengerannya simple ya ? wkwkw. Aktualnya SUSAH. Terlebih untuk orang yang kaya saya yang kalo ngomong nyerocos gada koma atau titik. Karena terkadang mulut lebih cepat berucap daripada otak wwkwkwk...

Hari ini kaidah itu saya praktikan ke Pak Suami di Bus dalam perjalanan pulang ke Bandung (kampung halaman saya). Bagaimana ceritanya ?

Jadi hari Jumat ini kami sudah merencanakan untuk ke Bandung, naik motor dari kantor ke Pool Primjas di Jababeka, kebetulan kantor kami satu kawasan di MM 2100 Cibitung. Perjalanan dari kantor ke Jababeka lumayan panjang sekitar 6-8 km ditambah macet  dan rusaknya jalan cikarang yang sungguh menguras batin nurani kesabaran saya (Disitu kadang saya berdoa " Ya Allah cepet dikasih rejeki biar bisa punya mobil " T,T).
Jalan yang macet, berlubang debu dan gembolan saya membuat saya agak rungsing pas sampe di Pool Bus.

Diperjalanan saya tanya Pak Suami, Duh hari ini belum nulis , aku belajar komunikasi apa ya ? dengan santai Pak suami tetep minta saya tetep belajar kaidah yang 7-38-55. Kata Pak Suami saya belum mahir di kaidah tersebut karena saya belum bisa membedakan atau mengidentifikasi lawan bicara. Jadi mau marah sama orang lain, marah sama suami, marh sama temen sama aja gitu gitu aja, Wkwkwkwkwk ya saya tampung dulu ya Pak Sarannya (Padahal doi belum pernah liat sayamarah ngomelin vendor lebih galak lagi :P). Nah Pak Suami juga menyinggung rungsing (baca: ngedumel) nya saya pas sampe pool Primjas

Jeng jeng jeng ,,, waah karena ga terima saya dibilang ngedumel (padahal iya jg sih) saya coba menjelaskan kenapa saya ngedumel. Penjelasannya dengan metode Clear and Clarify.
Dengan semangat menggebu saya jelaskan kenapa saya ngedumel

1. Saya sebenernya ga mau lewat jalan yang licin, banyak motor dan naik turun itu. (didaerah deket eretan arah ke ejip) tapi ya karena jalan kalimalang macet, ya sudahlah nurut ae~~
2. Saya bawa gembolan banyak, dan itu cukup sakit ditangan, ditambah gembolan air minum yang beli di indomart ampe banyak
3. Jalan yang jelek , macet, mobil yang ga sabaran, motor yang sama aja ga sabaran\
4. Debu di jalan jujur bikin tambah panas suasana hati dan pikiran
5. Ini yang memberikan kontribusi juga sama kondisi pikiran yaitu tempat duduk motor yang keras banget, mungkin per shockbekernya udah ga terlalu berfungsi itu  yang paling bikin capek pantat sampe sakit ke tulang ekor (berdoa lagi " Ya Allah semoga dikasih rejeki ganti shockbeker kasian hambamu ini yang kalau turun dari motor selalu sakit tulang ekornya")





                                                           Gambar diambil dari google


alasan alasan itu saya sampaikan ke Pak Suami, dan sepenglihatan saya sih Pak Suami  mengerti hahah. Apakah komunikasi saya sudah produktif ? entahlah~

ya begini cerita latihan komunikasi saya dengan Pak Suami, Masih ada 8 hari lagi, semoga istiqomah wkwk


Cheers

Aghnia (Anya)

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip
0

Games Kelas Bunda Sayang Level 1 (Tantangan 10 hari komunikasi produktif) #day1

Assalamualaikum wr wb


Akhirnya masuk kelas bunsay juga,, tugas kali ini tentang komunikasi produktif. Nah,, mulai prakteknya disesuaikan dengan kespakatan yaitu tanggal 1-17 Juni 2017. Jadi selama hari itu kita dilatih untuk berkomunkasi yang produktif dan efektif. Ada dua pilihan :
a. Komunikasi Produktif untuk Anak
b. Komunikasi Produktif untuk Keluarga
dikarenakan belum memiliki anak, maka saya ambil point B, dan mulailah bertanya pada Pak Bojo, apa kelemahan saya dalam komunikasi ,, dan beliau menyebutkan point yang ketiga yaitu Kaidah 7-38-55.
Apa itu kaidah 7-38-55 ??
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Hal ini mungkin ditangkep sama suami saya kalau ngomong nada kemana, intonasi kemana dan bahasa tubuh kemana,, wkwkkww  jadi sering  salah pengertian diantara kami. Saya akui emang kadang saya suka ga kontrol atau  ga sadar dengan apa yang dibicarakan.
Nah mulai hari ini harus mulai belajar lagi kaidah kaidah dalam kominikasi.. bismillah Semangatt..!!!
Mulai ngeblog lagi juga karena kayaknya ini paling cocok untuk jadi media tulis tulis biar gak kececer,, kalo lewat FB malu bikin status nya wkkwkw,,
selama 10 hari saya akan posting apa saja yang sudah saya praktikan :D ,, wismilak!

Hari pertama saya g mulus dalam menerapkan komunikasi produktif. Hari ini saya miskom sama suami.Ya bukan salah dia juga sih.  Tapi salah saya,Jadi ceritanya udah lewat dr jam 12:00 suami tidur siang, saya mncoba bangunin untuk solat, tp suamik belum bangun dan saya malah ikut tidur tiduran, salahnya saya nyuruh solat tapi saya belum solat juga (hehe nakal jangan ditiru yak)..
Nahhhh saya bukannya berhasil bangunin malah ikut ketiduran.. Dan suamik ga bangunin saya karena dikira saya dah solat (melihat mukena dilipet rapih, padahal itu bekas dhuhaa ) akhirnya saya bangun tidur beberapa menit sebelum adzan ashar,, buru buru shalat dzuhur dan ashar,, dan pas bangun agak ngambek sama suami kenapa ga dibangunin, dan suamik mengira saya udah solat dan pas dia solat saya lg terlelap ga tega bangunin..
Dilalah pas lagi ngambek itu, muka cemberut suamik malah yang ngingetin "katanya lg belajar 7-38-55..." Yang intinya saya harus cerita kenapa nangis dan ngambek. hehe.Hari pertama malah false celebration yak..

Tak apa.. Masih ada hari besok. Insyaallah belajar terus.  Beruntung punya suamik yang terus ngingetin
Semangat! Bismillah!




                                               
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip
0

Materi Kelas Bunda Sayang Sesi 1 (Komunikasi Produktif)





KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.



KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata  masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:



1. Kaidah 2C: Clear and Clarify


Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.



Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.



2. Choose the Right Time


Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55


Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. 
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.


4. Intensity of Eye Contact


Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.



5. Kaidah: I'm responsible for my communication results


Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.



KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.


Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :

“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)


b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh


⛔Kalimat tidak produktif:

“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)


✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)


Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.


c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan


⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”


✅Kalimat produktif :

“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”


d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu


⛔Kalimat tidak produktif :

“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”


✅Kalimat produktif :

“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”


e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.


f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :

“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”


✅Kalimat produktif:

“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.



g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.


⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”

“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”


✅Pujian/Kritikan produktif:

“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”


h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:

“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:

“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.


I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

Kalimat tidak produktif :

“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

Kalimat produktif :

“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”


j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati


⛔Kalimat tidak produktif :

"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :

kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?


k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :

“ Mandi sekarang ya kak!”


✅Kalimat produktif :

“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat




Salam Ibu Profesional,



/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:

Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com